Biarkan

Ini hal yang selalu menjadi bagian melelahkan ketika aku membangun sebuah jembatan baru. Mudah ? Tidak. Kadang aku ingin menyerah. Sepele, memang. Tapi, arena ini berbeda. Sesal ketika kita menggantungkan rasa bahagia kita di saku orang lain. Sesal ketika kita membuatnya juara, namun dia pergi kepada mereka yang memberinya tepuk tangan, bukan kita yang ada […]

“No Pain No Gain” Katanya, Setuju?

IMG_4219

Perlahan aku sadar, bahwa sebenarnya kita tidak bisa percaya kepada seseorang dengan segenap hati. Aku lupa bahwa setiap orang punya kesempatan, kesempatan untuk mengecewakan kita.

Berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran bahwa kejujuran di atas segalanya. Bertemu dengan sekawan yang memang memandang lebih baik jujur menyakitkan daripada berbohong manis namun menenangkan.

Waktu pun akhirnya menjawab, seleksi alam pun terjadi. Daun-daun pun layu jatuh berguguran, hanya akar terkuat yang akan mengakar lebih dalam.

Terima kasih kepada mereka yang telah menjadi jujur dan baik. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, aku sadar menjadi pribadi yang baik adalah kewajiban. Sekalipun ada orang yang berbuat tidak baik. Jika memang kepercayaan terhadap sesama adalah mudah, mungkin sudah kulakukan. Sayang, kepercayaan tidak seperti itu bagiku.

Bukankah setiap orang-orang yang hadir di hidup kita selalu beralasan? Entah mendewasakan atau memberi kenyamanan. Satu hal yang detik ini aku percayai dengan sungguh, tidak akan ada pribadi yang berkembang, jika tidak melewati rasa sakit, “no pain no gain”. Mungkin untuk menjadi pribadi yang kuat kita harus bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, ah percayalah semua ada hikmahnya.

Tuhan, ijinkan aku menjaga dengan betul orang-orang yang menjaga kepercayaan dan rasa jujur jika nanti mereka datang ke hidupku. Tuhan, relakanlah aku melepas manusia-manusia yang lisannya menganggap kebohongan sebagai pencuci mulut itu pergi dari hidupku. Aku tahu, Kau menguji umat-Mu karena Kau mencintai dan ingin selalu membuat mereka lebih baik.

Terima kasih Tuhan, terima kasih manusia-manusia, karena tanpamu aku mungkin hanya menjadi manusia biasa-biasa saja.

 

Bandung, 03 Juni 2016

Rara Febtarina

Sebuah Nama yang Harus Menggema di Langit


Ibu. Kata ini sangat luar biasa untukku. Tidak sabar untuk berbagi rasa ini, aku menuliskan cerita super pendek ini menggunakan smartphone sambil duduk menunduk di sudut ruang tunggu.

Keponakanku sedang di rawat di ICU, aku menginap, dan sesekali aku mengeluh. Rasa pegal leherku, rasa tidak nyaman tidur di bangku, lampu ruang tidak di matikan, sampai tengah malam orang lain masih sibuk berlalu lalang, dan sulitnya mata ini terpejam.

Di sisi lain, aku melihat para ibu yang lain. Ibu hamil, ibu melahirkan, ibu yang menunggu anaknya di rawat, rasa keluh kesahku ini tak ada artinya sama sekali. Waktu menungguku di gunakan untuk berbincang santai dengan mereka, tapi Masha Allah luar biasa yang kudapatkan. Banyak pengalaman yang mereka bagi, dari mulai rasa senang sampai rasa sakit.

Aku belum menikah, jangankan menikah, calon pun….ah sudahlah šŸ˜… tapi aku bisa bilang “surga di bawah telapak kaki ibu” benar adanya. Ketika mereka mengandung sampai melahirkan mereka sedang mempertaruhkan nyawanya. Mereka bilang, rasa mulas dan rasa sakitnya luar biasa. Tapi rasa itu kalah hanya dengan suara tangisan dari malaikat kecil yang baru mereka lahirkan. Masha Allah dengan mendengarnya pun aku tak kuasa membendung air mata, bulu kuduk sudang berdiri tanda takjubku.

Untukmu yang sedang membaca ini, masihkah kau sepele-kan kehadiran seorang ibu? Jangan sampai. Karena, sampai kau berjuang berdarah-darah pun hal itu tidak akan pernah sebanding dengan nyawa ibumu yang beliau pertaruhkan hanya untuk memberimu kesempatan mengecap rasa dari sebuah dunia.

Namun, jika ibumu telah tiada. Aku harap kau tak luput menyebut namanya setelah dua salammu, aku yakin kau tahu dengan pasti bahwa doa anak soleh dan solehah pastilah sampai. Aku yakin kalian tidak akan tega jika di alam sana beliau berada di kegelapan. Gemakanlah doamu untuknya, karena aku percaya doa anak soleh dan solehah akan menembus lapisan langit manapun.

Bandung, 20 Mei 2016
Rara Febtarina

Rasa cintamu tak berarti jika doamu untuk mereka yang telah pergi tidak menggema di langit.

Bagai Semesta

IMG_4024
Bagai Semesta – Jika ini mereka sebut teman, bahkan lebih. – @febtarinar

Bukan hanya duka tetapi bencana

Badai datang silih berganti tiada henti

Air mataku terjun bebas di balut kepedihan

Hatiku retak bagai gelas tak bernama

 

Duniaku seakan runtuh

Berdiam diri di sudutĀ bumi yang tenggelam

Serasa kelam bagai mati di laut merah

Berharap keajaiban rela datangĀ merangkulku

 

Sekawan manusia datang berbondong-bondong

Menamparku dengan sebilah pisau

Hujatan demi hujatan datang membangkitkanku

Memberiku cahaya nafas hidup kembali

 

Jika ini mereka sebut teman, bahkan lebih

Rela membunuh waktu untuk lengkungan manis di wajahku

Kasih mereka terlalu nyata

Sampai aku tak sanggupĀ sebut ini dusta

 

Terngiang do’a mereka yang mengudara

Tidak mungkin aku menyerah bersama kegelapan

Cinta mereka bagiku bagai semesta

Sehancur apapun aku, mereka tetapĀ membangkitkanku

 

Bandung, 17 Mei 2016

Rara Febtarina

RUMAH

IMG_3997
ketika lilin kecil membakar diriku, rumah adalah lautan cinta yang meredam amarahku – @febtarinar

Rumah, rangkaian lima huruf ini menghasilkan sebuah kata luar biasa penuh makna. Bukan karena bangunannya, Ā tetapi karena orang-orang yang “hidup” di dalamnya.Ā Berbagi suka duka di dalamnya. Canda dan amarah sebagai bumbunya. Ceria dan tangis menghiasinya.

Ketika, badai itu datang seketika, tahukah kau rumah adalah tempatku berlari mencari perlindungan ? Ketika, kilat petir menyambar sesekali, tahukah kau rumah adalah tempatku berlindung mencari sebuah ketenangan ?

Mereka yang sudah susah payah menghidupkan rumah menjadi begitu hangat membuatku tiada berdaya. Hari demi hari telah kulalui, hal itu membuatku semakin sadar menjadi dingin, acuh, dan tidak peduli adalah kesalahan besar. Kesadaran ini datang bukan dari nasehat yang mereka lontarkan, tapi dari perilaku mereka yang semakin hari semakin hangat. Sebongkah es mana yang tidak mencair jika terus disinari mentari pagi hari ? Mereka tak banyak bicara, tapi aksinya begitu nyata.

Processed with VSCO with b1 preset
Hal yangĀ paling berharga di hidupku adalah di beri kesempatan oleh Tuhan lahir dan di cintai dari keluarga sederhana penuh kasih seperti mereka. Tuhan terima kasih untuk anugerah ini – @febtarinar

Tahukah kau ? Ketika lilin kecil membakar diriku, rumah adalah lautan cinta yang meredamkan amarahku. Sujud syukurku untuk-Mu yang memberikanku kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka. Terima kasih karena selalu menyamankan. Kemanapun aku melangkah, kemanapun aku berlari, kemanapun akuĀ pergi, akan ku pastikan aku akan kembali.

Kata terima kasih tidaklah cukup menggambarkan betapa besarnya rasa syukurku memiliki rumah seperti ini. Percayaku pada-Nya, bahwa setiap orang di hidupku selalu memberi arti mengapa aku terlahir di dunia ini. Tuhan jagalah mereka, jagalah rumahku. Jika di persimpangan jalan nanti kau bertanya padaku siapa yang paling berarti setelah Tuhan dan agamaku, aku akan selalu menjawab “rumahku”.

 

IMG_3804
Kedua kakakku pengganti orang tuaku sekarang. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mampu membalas cinta kasih yang telah mereka berikan. Tapi, pada akhirnya aku selalu ingin berterima kasih – @febtarinar

 

Tulisan ini terinspirasi dari kedua kakakku dan tulisan ini aku dedikasikan untuk keluargaku.

Surat Rindu Untuk Ayah

IMG_3474

Bandung, 20 April 2016

Selamat malam, Kamis. Kamis yang selalu kurindukan selayaknya aku merindukan dirimu. Ku tuliskan surat ini di bawah langitĀ Bandung yang mendung di temani jejak rintik hujan.

Hujan malam ini membawa petrichor lagi. Menghanyutkanku kepada sejengkal ingatan yang tak akan mampu aku hilangkan. Entahlah, aku hanya mampu berdoa dalam diam. Ada sesak yang tak mampu aku sembuhkan. Ada sesosok bayang yang tak mampu aku raih kembali.

Sesekali, aku teringat akan sorot matamu. Kau adalah orang yang selalu melihatku dengan apa adanya tanpa tapi. Kau adalah lelaki yang acuh, acuh yang paling penuh kasih. Kau tahu? kau begitu dingin, dingin yang paling menghangatkan bagai api unggun di perkemahan kita musim lalu. Kau adalah lelaki yang menyentuhku dengan sapaan kata tolong untuk mengambil koran di halaman rumah setiap pagi, betapa rindunya aku berbincang-bincang hangatĀ setelah itu. Kemudian, kau juga yangĀ melemparkan senyum tanda ucapan terima kasih untuk setiap usaha kecilku. Hebatnya kau ajarkan aku pula cara meminta maaf. Maaf adalah kata ajaib yang sudah menjadi kawan hidupku. Aku paham, maaf bukan sekedar kata untuk mengakui kesalahanku. Lebih dari itu, maaf adalah kata di mana aku melawan egoku sendiri.

Ayah, terima kasih telah menjadi seorang yang teduh selain Ibu. Ayah, terima kasih untuk pelukan hangatĀ ketika badai datang di hidupku.

Tuhan terima kasih telah menganugerahkan Ayah yang cinta kasihnya sempurna tanpa tapi. Ayah yang mencintaiku dengan walaupun. Ketahuilah, kepergianmu itu membuat dirimu semakin hidup di hatiku.

Ā Rinduku yang terlalu

Rara Febtarina

Aku Selesai

 

IMG_3936

Aku meninggalkanmu dengan kelebihan dan kekuranganmu,

Aku meninggalkanmu dengan suka dan dukamu,

Aku meninggalkanmu dengan mantap tanpa ragu,

Aku meninggalkanmu yang selalu mengecewakanku.

 

Karena,

Aku percaya dengan sungguh,

Bila kau mencintai seseorang,

Kau akan tetap tinggal,

Bukan, meninggalkan.

 

Mencintaimu membuatku lupa bahwa ada Tuhan yang sedang cemburu,

Cemburui aku yang mencintaimu daripada PadaMu.

 

Sampai aku lupa bahwa ada diriku sendiri yang mesti aku cinta,

Perjalanan ini ketahuilah tidaklah mudah setelah banyak memori bersama.

 

Namun,

sudah habis waktuku untuk berotasi di sekitarmu.

 

Aku sudah mencoba,

Aku sudah lelah,

Dan, Aku selesai.

Bandung, 08 MeiĀ Ā 2016

Rara Febtarina